Aku janji akan turuti semua kemauan mu
-Janji ya?-
Iya, aku janji :)
Bukan aku yang menginkari janjiku, kamu yang pergi tanpa pesan dan kesan. Kamu yang meminta dan kamu yang mengakhiri. Tragis.
Percakapan semu, 2015
Kamis, 09 Juli 2015
Selasa, 07 Juli 2015
Renungan Sahabat
Gw paham. Tapi lu harus sayangi diri lu. Ini sudah jauh di luar batas kewajaran. Anggap ini fase pendewasaan lu. Sampai batas waktu yang ditentukan Allah, menurut gw cukup, sekarang lu harus tinggalkan. Jangan sampe malah lu jadi Fadhel yang ga gw kenal. Lu harus sayang badan lu, keluarga lu, teman-teman lu. Lu ga perlu jawab tinggalkan sampai kapan. Nanti Allah yang akan buat momen itu. Biarkan dia juga belajar tanpa lu ajari. Untuk sekarang cukup -Rifki
Baik ki.
Senin, 06 Juli 2015
Pergi
Hati mulai berbisik, saatnya sekarang aku pergi
Aku akan pergi. Takkan ada tempat kembali bagi jiwa yang tak terhargai. Aku harus pulang menemui semangatku kembali.
Aku akan pergi, garuda ku telah menunggu. Ada tinggal untuk tahu rasanya sesal. Ada ikhlas untuk tahu rasanya lega.
Aku akan pergi. Tak mungkin ku disini, menatap tajam kau bercumbu dengan hati dan pikiranmu untuk orang lain. Mana mungkin aku tetap tegak berdiri. Patung pun kan bungkuk lemas, nona.
Aku akan pergi. Ini soal kasih tak sampai. Ini soal kita yang pergi tanpa terima kasih.
Lihatlah kebelakang, semangat itu tetap ada, tapi kan ku simpan dalam kotak. Jangan kau tengok, harusnya kemarin sebelum masuk dalam kotak.
Aku hanya akan berupa hujan. Jatuh, memberimu rasa, tergelincir, dan menguap.
Aku tahu aku yang jatuh cinta. Bukan dirimu.
Jakarta, 2015
FMR
Jumat, 03 Juli 2015
Ketika ikhlas berbicara
Ketika ikhlas berbicara
Ketika ikhlas berbicara
Baru ku tahu tak sekedar i-k-h-l-a-s ejaannya
Begitu berat, begitu sulit
Tapi bukankah itu yang dinamakan ikhlas
Aku percaya Allah akan mempertemukan kita kembali
Ketika kita siap untuk dipertemukan
Kalau kau berdoa untukku, setiap dzikir ku untukmu
Aku selalu berharap Allah jaga dirimu
Hanya itu pintaku
Ketika ikhlas berbicara
Ku serahkan pada illahi rabbi
Karena ku yakin
Ia menjaga mu
Hingga esok kita bertemu
Tunggulah aku, dalam doamu
Selalu
Padang, 3 Juli 2015
Kamis, 12 Juni 2014
Pagi
Pagi, sesejuk kala engkau tahu Tuhanmu menjaga dan merawat mu dengan baik.
Seindah Rasulmu mengajari mu dengan kata-kata lembut bak embun dibawah gunung Malintang.
Pagi, memberikan bukti bukan janji, bahwa Jakarta kota yang layak.
Transportasi datang dengan tepat waktunya, melaju kencang dengan percaya diri, memastikan setiap orang mendapat tempat kursinya, dan yang pasti ACnya benar-benar AC.
Sehingga memberikan kenyamanan fisik dan psikis bagi penggunanya.
Seolah berkata, kami sudah profesional!
Pagi, membuat kota Jakarta menjadi kota yang layak.
Tak ada asap, tak ada sampah, termasuk tak ada lautan manusia yang seperti sampah...
Orang bisa duduk dengan tenangnya di halte bus dan takut ketiduran karena cepatnya bus melaju.
Kalau bukan pagi, orang juga takut, takut tertidur lalu mati karena kehabisan oksigen di dalam bus dan kereta.
Pagi, semuanya lancar.
Ambulance melaju dengan kencang dan siap menyelamatkan nyawa pasien.
Kalau bukan pagi, ambulance pun siap, siap mengantarkan nyawa pasien di tengah klakson mobil-mobil yang semerawut di perempatan jalan.
Pagi, semua orang menunjukkan muka tiada beban, tiada gelisah, tiada amarah.
Pagi, kulihat sekelompok ibu pergi mengaji, seorang pemuda pergi berlari, dan wajah satu keluarga penuh berseri.
Pagi, terimakasih telah datang kembali.
Cawang, Minggu 8 Juni 2014
Senin, 17 Maret 2014
Jokowi; Sebuah Ironi
Tidak ada setting-an yang tidak di setting.
"Dengan
mengucap bismillah, saya siap melaksanakan," kata Jokowi, sekitar pukul
14.49 WIB. Kompas.com Jumat, 14 Maret 2014 | 14:53 WIB. Hanya butuh waktu
kurang dari empat menit berita itu tersebar seantero nusantara. Diikuti dengan
mencium bendera merah putih yang entah dengan sengaja atau tidak dipersiapkan
terlebih dahulu. Termasuk agenda pak Jokowi “mendeklarasikan diri” yang diatur hari
itu sengaja di Rumah Pitung, pahlawan Betawi di Marunda, Jakarta Utara. Mungkin
pak Jokowi ingin mengirimkan pesan, “Saya ini pembela kaum lemah, berani,
rendah hati, dan akan dikenang seperti si Pitung”. Jika anda menganggap saya
mengada-ada, skeptis, dan sinis terhadap pencalonan pak Jokowi. Tak apa, tapi
ingat, ini tahun politik. Politik sama dengan pencitraan, dan pencitraan sama
dengan strategi. Jadi, tak ada salahnya juga kalau pak Jokowi dan tim sengaja
me-setting tempat. Seolah-olah hari
dan tempat itu sudah ditakdirkan.
Lurus penyelimut bantahan.
Teringat
dahulu, entah saya salah dengar atau tidak mengerti sama maksud pak Jokowi saat
itu. Kalau tidak salah, dirumah bu Mega, saya tonton dari televisi jumpa pers yang
diadakan sebelum pilkada Gubernur DKI Jakarta. “Katanya saya tidak ingin
menyelesaikan lima tahun. Diisukan begitu, untuk apa? Itu biar masyarakat ragu.
Oleh sebab itu, dalam gerakan ini saya sampaikan, Jokowi dan Basuki komit untuk
memperbaiki DKI dalam lima tahun," seru Jokowi, kala masa kampanye Pilgub
Jakarta. Salah satu portal berita me-review
perkataannya kembali. Saya berfikir, mungkin pak Jokowi lupa berucap seperti
itu. Sayangnya setelah dikonfirmasi media, entah lupa, pura-pura lupa, atau benar-benar
lupa serentak dilakukan pak Jokowi dan timnya. Tentu dengan dalil-dalil yang
mereka miliki. “Kami tidak ingin membantah, tapi kami ingin meluruskan
pernyataan waktu itu, bahwa.... bla... bla... bla...” isi sendiri dalil
pembenarannya.
Pemimpin rendah hati itu sudah
berubah menjadi tamak.
Dari
kata tak mungkin, ah masa, yang bener, mungkin pak Jokowi khilaf sampai pada
akhirnya saya menyimpulkan sang pemimpin itu sudah berubah menjadi tamak. Tak
ada lagi pemimpin yang rendah hati itu. Pemimpin yang dapat dipercaya itu.
Pemimpin yang komitmen akan janji-janjinya. Mungkin ia dulu komitmen dan amanah
saat menjadi pemimpin Solo, tapi semenjak ia mempunyai tugas menyambut Presiden
setiap kali bertolak dan tiba dari luar negeri di bandara Halim atas konsekuensinya
menjadi gubernur ibu kota negara. Saya pikir mungkin pak Jokowi pun ingin
diperlakukan seperti itu, dan saat inilah kesempatannya. Dengan alasan akan mengabdi
penuh pada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ia konkritkan dengan
tindakan mencium bendera merah putih yang kebetulan sekali merah menyala dan
putih bersih (karena biasanya bendera pajangan di museum atau rumah bersejarah
milik pemerintah Jakarta kusam dan kumal). Ia siap menjadi calon presiden untuk
bangsa Indonesia tercinta. Tapi bagi saya, dia bukan pak Jokowi yang dulu lagi.
Jokowi; PNS Sejati?
"Saya telah mendapatkan mandat
dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menjadi capres dari
PDI Perjuangan," kata Jokowi saat melakukan blusukan di Rumah Pitung di
Marunda, Jakarta Utara, Jumat (14/3/2014). Sebenarnya ini bukan pertama kali
pak Jokowi selalu memberikan pernyataan serupa. Misal, terserah bu Mega, saya
ikut instruksi partai, tanya sama DPP, dan lain-lain ke arah sana. Saya
bingung, pak Jokowi ini bekerja untuk rakyat atau partai? Hemat saya seharusnya
pak Jokowi tidak menjadi politisi, tapi paling tepat ialah menjadi Pegawai
Negeri Sipil, yang selalu siap menerima perintah atasan, mengabdi penuh pada
negara, dan mengikuti kenyataan hidup itu harus sederhana. Sekarang, PNS malah
banyak setengah mengabdi pada negara, tidak mau ikut perintah atasan, dan
merubah kenyataan yang sebenarnya bahwa hidup tidak boleh se-sederhana itu.
Duh, dunia memang sudah kebalik-balik.
Jokowi; sebuah ironi
Pak
Jokowi mungkin benar, ratusan juta orang diluar DKI Jakarta lebih
membutuhkannya, walaupun menurut saya perasaan dia saja. Namun kalau begitu,
kenapa tidak dari dahulu saja dia mengatakan akan maju sebagai calon Presiden
RI 2014. Toh media darling yang dia
dapat juga sudah ada semenjak akhir kepemimpinannya di daerah Solo dan tak ada
yang melarang toh seorang bupati atau mantan bupati jadi calon Presiden.
Artinya apa, ia memanfaatkan popularitasnya sebagai gubernur DKI Jakarta untuk
batu loncatan menuju RI 1.
Sekali
lagi, jangan anggap saya skeptis karena ini fakta. Saya bukan orang berseragam
dengan warna tertentu ditambah logo disebelah kanan atas. Saya cuma seorang pemuda yang sedih melihat
negeri ini. Walaupun saya biasa-biasa saja sebenarnya atas pencalonan pak
Jokowi sebagai capres 2014 karena sah-sah saja setiap orang memajukan dirinya.
Soal janji yang pernah ia utarakan, itu kan janji, kalau ditepati ya syukur,
belum tentu menang juga, yang penting maju aja. Toh “insya Allah” di negeri
kita harganya begitu remeh di mulut.
Yang
terpenting kita harus ingat definisi partai politik menurut Carl J. Friedrick bahwa “Partai politik
adalah sekelompok manusia yang terorganisasi dengan tujuan merebut atau
mempertahankan kekuasaan pemerintahan”. Jadi tak ada salahnya pak Jokowi yang
notabene kader partai ingin merebut kekuasaan di pertarungan pemilihan umum
kali ini. Tapi satu kesimpulan yang saya dapatkan dan saya bisa belajar dari
peristiwa politik ini bahwa amanah, janji, dan komitmen yang ia langgar cukup
menjadikan kita dapat belajar lebih banyak mengenai seorang calon pemimpin
bernama Joko Widodo. Semoga Tuhan, Allah SWT merahmati negeri ini, Amin.
Jakarta, 17 Maret 2014
Jokowi; Sebuah Ironi
Langganan:
Postingan (Atom)


Sumber gambar: Google.co.id